Senin, Oktober 12, 2026
spot_img
spot_img

PMI Bekasi Produksi Hingga 100 Ribu Liter Air Bersih

SERANG BARU | suaradesa.click Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bekasi mengoperasikan fasilitas water treatment untuk mengolah sumber air menjadi lebih jernih dan aman sebelum disalurkan kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Sumber air yang digunakan berasal dari Telaga Hejo, Kampung Tegal Kadu, Desa Sirnajaya, Kecamatan Serang Baru. Lokasi tersebut dipilih setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan hasilnya menunjukkan bahwa kualitas air cukup baik untuk diolah serta dimanfaatkan sebagai bantuan bagi masyarakat.

Humas PMI Kabupaten Bekasi, Achmad Syarif, menyebut Telaga Hejo menjadi salah satu sumber air yang dinilai memenuhi syarat dan layak digunakan untuk mendukung produksi air bersih.

“Water treatment yang dipakai PMI Kabupaten Bekasi saat ini mengambil sumber air untuk dijernihkan sehingga bisa langsung diberikan kepada warga. Sumber airnya kita ambil dari Telaga Hejo, Kampung Tegal Kadu, Desa Sirnajaya, Kecamatan Serang Baru,” ujar Syarif saat ditemui di lokasi, Tegal Kadu, Desa Sirnajaya, Kecamatan Serang Baru, Senin (7/9/2026).

Ia menjelaskan, pemanfaatan air dari Telaga Hejo mengacu pada hasil pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan adanya kontaminasi pada sumber air, sedangkan tingkat kejernihannya juga tergolong cukup baik.

“Secara kejernihan juga bagus. Makanya kita gunakan untuk diolah dan kemudian dibagikan kepada masyarakat,” katanya.

Meski hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi sumber air cukup baik, PMI tetap menerapkan proses pengamanan tambahan dengan menggunakan klorin. Tahapan ini dilakukan untuk membantu membasmi mikroorganisme maupun kuman yang masih berpotensi berada di dalam air, termasuk bakteri Escherichia coli atau E. coli.

“Kalau secara keamanan, dari laboratorium PMI, kita coba kasih klorin untuk membunuh kuman-kuman yang ada di airnya, salah satunya bakteri E. coli,” jelas Syarif.

Secara teknis, pengolahan diawali dengan menyedot air dari Telaga Hejo menggunakan pompa. Air kemudian dialirkan menuju tempat penampungan awal yang disebut union tank sebelum masuk ke proses penyaringan.

Baca Juga  Jelang Musim Tanam, Pemkab Bekasi Perkuat Penanganan Irigasi Pebayuran

“Pertama kita ambil atau sedot dari Telaga Hejo sebagai sumber air, kemudian kita masukkan ke tampungan pertama. Di sana ada union tank yang secara teknis digunakan untuk penampungan awal,” terangnya.

Dari union tank, air selanjutnya dialirkan menuju mesin filtrasi. Peralatan tersebut digunakan untuk menyaring air sehingga tingkat kejernihannya meningkat sebelum air memasuki tahapan penampungan selanjutnya.

Syarif mengatakan mesin filtrasi yang digunakan merupakan peralatan milik PMI Pusat yang dipinjamkan untuk kemudian dibawa ke Serang Baru guna mendukung pelayanan air bersih bagi masyarakat.

“Dari penampungan pertama, kita filtrasi menggunakan mesin filtrasi. Mesin ini milik PMI Pusat, kita pinjam dan bawa ke Serang Baru untuk melakukan penyaringan,” ujarnya.

Walaupun air Telaga Hejo sejak awal sudah memiliki tingkat kejernihan yang cukup baik, proses filtrasi tetap dilakukan sebagai langkah tambahan untuk meningkatkan kualitas air sebelum diberikan kepada masyarakat.

Setelah melewati mesin filtrasi, air dialirkan menuju water blender. Fasilitas tersebut digunakan sebagai tempat penampungan sementara sebelum air dipindahkan atau dialirkan ke tangki-tangki penyimpanan.

“Setelah difiltrasi, air kita tampung di water blender sebelum kemudian kita naikkan ke tangki-tangki air,” kata Syarif.

Dalam proses distribusi, tangki penampungan dapat menggunakan fasilitas milik PMI maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). PMI juga membuka kesempatan penggunaan tangki milik masyarakat yang ingin membantu.

Menurut Syarif, ketersediaan kapasitas penampungan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kelancaran produksi air setiap hari.

“Bisa menggunakan tangki air PMI, bisa juga tangki air BPBD. Kalau ada tangki masyarakat yang ingin membantu, itu juga bisa digunakan. Dan bagi instansi atau perusahaan yang mau menyumbang tangki atau gallon PMI siap menerimanya,” tuturnya.

Untuk satu rangkaian pengolahan, mulai dari pengambilan air hingga penampungan akhir terisi, diperlukan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Waktu tersebut mencakup proses penyedotan, filtrasi, hingga pemindahan air ke tempat penampungan terakhir.

Baca Juga  Ketua IWOI Minta Polri Tak Alergi Kritik: Polisi Bersama Masyarakat Harus Jadi Gerakan Nyata

“Dari mulai disedot sampai tempat penampungan terakhir, sekitar dua sampai tiga jam sudah penuh dan bisa digunakan,” ungkapnya.

Adapun kemampuan water treatment PMI Kabupaten Bekasi berada pada angka minimal 50 ribu liter air per hari. Jika seluruh sistem dioperasikan secara maksimal, produksinya dapat mencapai sekitar 100 ribu liter setiap harinya.

“Dalam sekali proses, minimal kita bisa 50 ribu liter dalam sehari. Kalau dimaksimalkan, biasanya sekitar 100 ribu liter,” jelas Syarif.

Ia menambahkan, jumlah produksi tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan mesin water treatment. Ketersediaan tempat penampungan dan armada yang digunakan untuk mengirimkan air kepada masyarakat juga turut menentukan kapasitas produksi.

“Kalau penampungan sudah penuh, kita langsung naikkan ke armada dulu supaya kapasitas penampungannya bisa kembali tersedia,” katanya.

Pengoperasian water treatment tersebut telah berjalan selama lima hari hingga Senin (7/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah PMI Kabupaten Bekasi dalam membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.

Melalui sistem tersebut, air yang berasal dari sumber lokal tidak langsung didistribusikan. Air terlebih dahulu melewati sejumlah tahapan, mulai dari penampungan awal, proses filtrasi, penampungan lanjutan, hingga klorinasi sebelum digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Syarif memastikan seluruh proses pengolahan memperhatikan aspek kualitas dan keamanan air. Hal itu dilakukan sejak pemilihan sumber air hingga proses akhir sebelum air dikirimkan kepada masyarakat.

“Jadi sumber airnya kita pastikan terlebih dahulu, kemudian melalui proses filtrasi dan pengamanan dengan klorin sebelum akhirnya didistribusikan kepada masyarakat. Jangan lupa bagi masyarakat yang akan mengkonsumsinya air terlebih dahulu dimasak,” pungkasnya.

Baca Juga

Artikel Lainnya

Tops News

Berita Pilihan

Seputar Desa

- Advertisement -spot_img

Pemerintahan

error: Content is protected !!